Suasanapengajian di SD Almadany. Beda Pendapat tentang Datangnya Rezeki, antara Imam Malik dan Imam Syafii (Mahfudz Efendi/PWMU.CO) PWMU.CO - Beda pendapat tentang datangnya rezeki, Imam Malik dan Imam Syafii tertawa bersama.. Kisah itu diceritakan H Hilmi Aziz MPdI pada kegiatan Pembinaan Guru dan Karyawan SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas Gresik, Sabtu (29/1/22).
DalamTetes-Tetes Kesturi Aulia, tertulis kisah bagaimana kebijaksanaan dua pendiri mazhab mengeluarkan opininya masing-masing dengan tetap menjaga adab. Dalam satu majelis ilmu, Imam Malik yang merupakan guru Imam Syafii mengatakan jika rezeki itu datang tanpa sebab. Guru Imam Syafii itu menjelaskan jika cukuplah seseorang bertawakal dengan benar.
ImamSyafii girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur. Bergegas dia menjumpai Imam Malik sang guru.
Haltersebut ternyata pernah menjadi perdebatan ulama besar: Imam Maliki dan Imam Syafi'i, yang keduanya merupakan guru dan murid. Debat itu terjadi. Ketika dalam satu majlis, Imam Malik mengatakan sesungguhnya bahwa rezeki itu datang tanpa sebab. Cukuplah kita bertawakal dengan benar. Maka Allah akan memberikan rezeki tersebut.
Kisahimam Syafii dan Imam Maliki Mengenai Konsep Rezeki Selasa, 20 Agustus 2019 Add Comment ini adalah Kisah Imam Maliki RA & Imam Syafi'i RA Tertawa Karena Beda Pendapat Tentang Masalah Rezeki. #Imam_Malik_RA (Guru Imam Syafi'i RA) Beliau berkata, : Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah
ImamSyafi'i, Meramu Pendapat Fikih Imam Malik dan Imam Abu Hanifah Viral, Kisah Dokter Harus Lewati Dua Gunung dan Seberang Sungai Demi Merawat Seorang Anak - Serambi Indonesia Kisah 50 Cent Beli Rumah Mewah Mike Tyson Lalu Jual Murah Viral, Kisah Dokter Harus Lewati Dua Gunung dan Seberang Sungai Demi Merawat Seorang Anak - Serambi Indonesia Kisah 50
xzlSUyJ. Ilustrasi Burung mencari rezeki untuk menafkahi anaknya. Jakarta, Muslim Obsession – Meski meyakini bahwa urusan rezeki merupakan hal yang pasti dari Allah Azza wa Jalla, namun kebanyakan orang masih gelisah memikirkannya. Utamanya, bagaimana cara untuk mendapatkan rezeki tersebut. Hal demikian, rupanya pernah juga menjadi perdebatan Imam Maliki dan Imam Syafii yang merupakan guru dan murid. Cerita bermula ketika dalam sebuah majelis ilmu, Imam Maliki yang merupakan guru dari Imam Syafii mengatakan bahwa sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab. Seseorang cukup bertawakkal dengan benar, niscaya Allah akan memberikannnya rezeki. “Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya,” demikian kira-kira pendapat Imam Malik. Imam Malik menyandarkan pendapatnya itu berdasarkan sebuah hadirs لَو أنكُم توكَّلْتُم علَى اللهِ حقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُم كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تغدُو خِمَاصًا وتَروحُ بِطَانًا “Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan berikan rizki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang,” HR. Ahmad. Menanggapi hal itu, Imam Syafii yang rupanya memiliki pandangan lain. Ia pun segera melayangkan pendapatnya. “Ya Syaikh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” kata Imam Syafii. Melalui pengandaian tadi Imam Syafii menyampaikan pendapat bahwa untuk mendapatkan rezeki dibutuhkan kerja keras. Rezeki tidak datang sendiri, melainkan harus dicari lalui didapatkan melalui sebuah usaha. Hingga titik itu, guru dan murid tersebut bersikukuh pada pada pendapatnya masing-masing. Hingga suatu ketika, saat Imam Syafii berjalan-jalan, ia melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Ia pun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. Imam Syafii senang bukan main. Ia senang bukan karena mendapatkan anggur. Ia senang karena memiliki cara untuk menyampaikan kepada Imam Malik bahwa pendapatnya soal memperoleh rezeki itu benar. “Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana mungkin mereka akan mendapat rezeki? Seandainya saya tak membantu memanen, niscaya saya tidak akan mendapatkan anggur”. Dengan bergegas Imam Syafii menjumpai Imam Malik yang tengah duduk santai. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, Imam Syafii bercerita seraya sedikit mengeraskan bagian kalimat, “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.” Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan. “Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab? Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.” Imam Syafii langsung tertawa mendengar penjelasan Imam Malik tersebut. Guru dan murid itu kemudian tertawa bersama. Begitulah, dua Imam madzhab tersebut mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama. Sejatinya, Imam Malik dan Imam Syafii mengajarkan kepada umat Islam, khususnya para ulama, bagaimana menyikapi sebuah perbedaan. Keduanya tak saling menyalahkan lalu membenarkan pendapatnya sendiri. Islam dibangun atas ukhuwah yang menghormati perbedaan namun tetap saling berkasih-sayang. Wallahu A’lam.
loading...Imam Maliki dan Imam Syafii yang merupakan guru dan murid. Foto/Ist Setiap muslim pasti meyakini bahwa rezeki datangnya dari Allah Ta'ala sebagaimana firman-Nya bahwa tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Namun, bagaimana memperoleh rezeki kerap mengundang perbedaan pendapat dari banyak orang. Hal ini pula pernah menjadi perdebatan ulama besar Imam Maliki dan Imam Syafi'i yang merupakan guru dan ketika dalam satu majelis ilmu, Imam Malik wafat 179 H yang merupakan guru dari Imam Syafi'i wafat 204 H mengatakan bahwa rezeki itu datang tanpa sebab. Seseorang cukup bertawakkal dengan benar, niscaya Allah akan memberikannnya rezeki."Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya," demikian pendapat Imam Malik menyandarkan pendapatnya itu berdasarkan sebuah hadis Rasulullah لَو أنكُم توكَّلْتُم علَى اللهِ حقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُم كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تغدُو خِمَاصًا وتَروحُ بِطَانًا"Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan berikan rizki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang". Ternyata Imam Syafii memiliki pandangan lain. Beliau mengemukakan pendapat kepada sang guru. "Ya Syeikh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?" kata Imam Syafii menyampaikan pendapat bahwa untuk mendapatkan rezeki dibutuhkan usaha dan kerja keras. Rezeki tidak datang sendiri, melainkan harus dicari dan didapatkan melalui sebuah dan murid yang merupakan pendiri mazhab itu bersikukuh pada pendapatnya masing-masing. Hingga suatu ketika, saat Imam Syafii berjalan-jalan, beliau melihat serombongan orang sedang memanen buah anggur. Beliau pun ikut membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafi'i mendapat imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas Syafi'i senang bukan main. Beliau senang bukan karena mendapatkan anggur, tetapi karena memiliki alasan untuk menyampaikan kepada Imam Malik bahwa pendapatnya soal rezeki itu bergegas Imam Syafi'i menjumpai Imam Malik yang sedang duduk santai. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, Imam Syafi'i menceritakan pengalamannya seraya berkata "Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya".Mendengar itu, Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Kemudian Imam Malik berucap pelan. "Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab? Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya".Imam Syafi'i langsung tertawa mendengar penjelasan Imam Malik tersebut. Sang Guru dan murid itu kemudian tertawa bersama. Begitulah, dua Imam mazhab mengambil dua hukum berbeda dari hadis yang Malik dan Imam Syafii mengajarkan kepada umat Islam bagaimana menyikapi perbedaan. Keduanya tak saling menyalahkan lalu membenarkan pendapatnya sendiri. Begitulah indahnya Islam apabila saling menghormati dan saling berkasih-sayang. Kisah Ibrahim bin Adham Dalam kisah lain diceritakan, suatu hari Ibrahim bin Adham 100-165 H, ulama sufi yang terkena zuhud. Beliau juga seorang pedagang yang sukses. Ketika beliau melakukan perjalanan, di tengah jalan beliau menemukan seekor burung yang sayapnya patah, tidak bisa terbang dan terpuruk di tempatnya. Seketika beliau menyuruh rombongannya berhenti."Demi Allah, aku mau melihat akankah ada burung yang mendatanginya membawa makanan atau akankah dia mati," ucap menunggu lama, tiba-tiba datang seekor burung lalu dia menempelkan paruhnya ke paruh burung yang sakit itu, lalu dia memberinya makanan. Sontak saja, Ibrahim bin Adham langsung berikrar bahwa ia akan meninggalkan dagangnya dan duduk tenang di rumah dengan terus beribadah kepada Allah, sebab ia telah menyaksikan sifat Maha Dermawan-Nya Allah dan pemberian rezeki-Nya tanpa kabar itu didengar oleh Imam As-Syibli, seorang sufi yang zuhud juga pada masanya. Lalu beliau mendatangi Ibrahim bin Adham dan berkata"Kenapa kamu meninggalkan daganganmu dan duduk di rumahmu seperti ini?"
– IMAM Malik Guru Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Tuhan yang mengurus sisanya.” Imam Syafii bertanya, “Jika seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia mendapat rezeki?”. Guru dan murid itupun tetap teguh dalam pendapatnya masing-masing. Suatu ketika Imam Syafii pergi berjalan-jalan dan melihat sekelompok petani sedang memanen buah anggur. Beliau juga membantu mereka. Setelah pekerjaannya selesai, Imam Syafii menerima imbalan berupa beberapa ikat anggur. Imam Syafii senang bukan karena mendapat anggur, tapi karena hadiah itu menguatkan pendapatnya. Imam Syafi’i akhirnya bergegas menemui gurunya Imam Malik. Sambil meletakkan semua anggur yang didapatnya, beliau menceritakan, dan sedikit mengeraskan kalimatnya, ”Jika saya tidak keluar dari gubuk dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu anggur tidak akan pernah sampai ke tangan saya.” Mendengar perkataan Imam Syafi’i, gurunya Imam Malik tersenyum sambil mengambil anggur dan mencicipinya. Kemudian Imam Malik berkata dengan lembut, “Hari ini saya tidak keluar, hanya mengambil pekerjaan sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah baiknya jika di hari yang panas ini saya bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang membawakanku beberapa buah anggur segar. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa alasan. Cukup dengan tawakkal kepada Allah, pasti Allah akan memberikan Rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Allah yang mengurus sisanya.” Akhirnya, guru dan murid itu saling tertawa. Begitulah cara para ulama melihat perbedaan, bukan dengan menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapat mereka. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.*
IMAM Malik Guru Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Tuhan yang mengurus sisanya.” Imam Syafii bertanya, “Jika seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia mendapat rezeki?”. Guru dan murid itupun tetap teguh dalam pendapatnya masing-masing. Suatu ketika Imam Syafii pergi berjalan-jalan dan melihat sekelompok petani sedang memanen buah anggur. Beliau juga membantu mereka. Setelah pekerjaannya selesai, Imam Syafii menerima imbalan berupa beberapa ikat anggur. Imam Syafii senang bukan karena mendapat anggur, tapi karena hadiah itu menguatkan pendapatnya. Imam Syafi’i akhirnya bergegas menemui gurunya Imam Malik. Sambil meletakkan semua anggur yang didapatnya, beliau menceritakan, dan sedikit mengeraskan kalimatnya, ”Jika saya tidak keluar dari gubuk dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu anggur tidak akan pernah sampai ke tangan saya.” Mendengar perkataan Imam Syafi’i, gurunya Imam Malik tersenyum sambil mengambil anggur dan mencicipinya. Kemudian Imam Malik berkata dengan lembut, “Hari ini saya tidak keluar, hanya mengambil pekerjaan sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah baiknya jika di hari yang panas ini saya bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang membawakanku beberapa buah anggur segar. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa alasan. Cukup dengan tawakkal kepada Allah, pasti Allah akan memberikan Rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Allah yang mengurus sisanya.” Akhirnya, guru dan murid itu saling tertawa. Begitulah cara para ulama melihat perbedaan, bukan dengan menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapat mereka. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.*
- Kisah ini bermula pada saat mereka berada dalam satu majlis ilmu, Imam Malik selaku guru pada saat itu membahas soal rizki. Berangkat dari sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan, "Andai kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan berikan rezeki kepada kalian. Sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaaan kenyang." HR. Al-Nasa’i dan al-Tirmidzi. Berdasarkan riwayat hadits tersebut, Imam Malik sebagai seorang guru menyatakan pendapat bahwa, rizki itu datang tanpa sebab sehingga seseorang cukup bertawakal dengan benar. Jika memang bertawakalnya benar, Niscaya Allah SWT pasti akan memberinya rizki. Rupanya, Imam Malik memiliki pandangannya sendiri terhadap riwayat hadits tadi. Mendengar itu, Imam Syafi'i sebagai seorang murid mengajukan pendapatnya, ia bertanya kepada sang guru “Wahai Syekh, andai kata seekor burung tidak keluar dari sarangnya, bagaimana mungkin ia akan memeroleh rezeki?” Imam Syafi’i berpendapat bahwa untuk mendapatkan rizki memerlukan ikhtiar dan kerja keras. Tidak bisa dengan hanya bertawakal, karena rizki tak akan datang dengan sendirinya. Baca Juga Tips Agar Tetap Produktif Selama Puasa Mendengar pertanyaan dari muridnya tersebut, lalu Imam Malik menjawab "Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurusnya!" Dua ulama ini teguh pada pendapatnya masing-masing. Hingga pada suatu hari Imam Syafi'i keluar dari pondok, lalu melihat rombongan orang-orang yang sedang memanen anggur. Dia pun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafi'i memperoleh imbalan dari hasil membantunya. Imam Syafi'i memperoleh beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. Ia merasa bahagia sekali, namun bukan karena dia mendapat anggur. Melainkan pemberian tersebut telah menguatkan pendapatnya. Bergegas Imam syafi'i menjumpai gurunya, Imam Malik. Pada saat itu, Imam Malik sedang duduk saja di rumah. Saat menjumpai Imam Malik, Imam syafi'i memberikan oleh-oleh anggur itu kepadanya seraya berkata Baca Juga Waspada! Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Merusak Otak "Seandainya saya tidak keluar pondok hari ini, dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu saja anggur ini tidak akan pernah sampai ditangan saya.” Mendengar itu, Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Kemudian Imam Malik berkata
kisah imam syafii dan imam malik tentang rezeki